Responsive Slideshow Advertisement

Dapur MBG Cirebon Dibekukan, Dugaan Keracunan Ratusan Siswa Jadi Sorotan: Sertifikasi Halal Dipertanyakan

Responsive Slideshow Advertisement

CIREBON — Operasional dapur penyedia Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Kota Cirebon Harjamukti Kalijaga 05 resmi dibekukan atau suspend oleh Badan Gizi Nasional (BGN), menyusul insiden dugaan keracunan makanan yang dialami ratusan siswa dan guru dari sejumlah sekolah di Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon.

Pembekuan tersebut dilakukan sebagai langkah pencegahan sekaligus memberikan ruang bagi tim terkait untuk melakukan investigasi dan memastikan penyebab insiden. Keputusan itu berlaku sejak Selasa malam (20/10/2026) hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Di tengah penghentian operasional tersebut, perhatian masyarakat juga tertuju pada informasi yang terpasang di pagar dapur. Sebuah spanduk menyebut lokasi tersebut masih dalam proses pengurusan sertifikat halal.

Informasi itu memunculkan pertanyaan publik mengenai sejauh mana proses verifikasi, pengawasan, kelayakan fasilitas, keamanan pangan, serta pemenuhan persyaratan operasional telah dilakukan sebelum makanan didistribusikan kepada para peserta didik.

Sampel Menu Sup Telur Puyuh Diperiksa

Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Cirebon, Yulian Septa Pratama, membenarkan bahwa operasional dapur telah dihentikan sementara untuk kepentingan investigasi.

Pada hari kejadian, dapur tersebut diketahui memproduksi sekitar 2.555 porsi makanan dengan menu nasi, sup telur puyuh, tempe oreg, sayur kol wortel, dan buah kelengkeng.

Berdasarkan indikasi awal, perhatian pemeriksaan mengarah pada menu sup telur puyuh. Namun, penyebab pasti insiden belum dapat disimpulkan sebelum hasil pemeriksaan laboratorium keluar.

Tim gabungan bersama Forkopimda Kota Cirebon telah mengamankan sejumlah sampel makanan untuk dilakukan pengujian secara laboratoris guna mengetahui kemungkinan adanya kontaminasi atau mikroorganisme penyebab gangguan kesehatan.

Ratusan Siswa dan Guru Mendapat Perawatan

Insiden tersebut dilaporkan berdampak terhadap siswa dan guru dari sejumlah sekolah, di antaranya SDN Kalijaga Permai, SDN Taman Kalijaga Permai, dan TK Teratai.

Para korban mengalami sejumlah keluhan, seperti mual, muntah, pusing, nyeri perut, diare hingga sesak napas. Sebagian korban kemudian mendapatkan penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan di Kota Cirebon, termasuk RS Siloam Putra Bahagia.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait menyatakan penanganan medis terhadap para korban menjadi prioritas.

Publik Minta Audit dan Transparansi

Kasus ini kini menjadi perhatian masyarakat karena menyangkut program pemenuhan gizi bagi anak-anak yang seharusnya mengedepankan standar keamanan dan kualitas pangan yang ketat.

Orang tua murid dan masyarakat meminta pemerintah tidak hanya berhenti pada pemeriksaan sampel makanan, tetapi juga melakukan audit menyeluruh terhadap dapur penyedia, termasuk proses pengadaan bahan baku, penyimpanan, pengolahan, distribusi, kebersihan lingkungan, kompetensi penjamah makanan, serta kelengkapan persyaratan operasional.

Publik juga meminta hasil pemeriksaan laboratorium disampaikan secara transparan agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.

Prinsipnya jelas: keselamatan anak harus menjadi prioritas utama. Jika hasil investigasi nantinya menemukan adanya pelanggaran terhadap standar keamanan pangan, masyarakat berharap tindakan tegas diberikan sesuai ketentuan yang berlaku.

Sebaliknya, seluruh pihak juga perlu menunggu hasil pemeriksaan resmi sebelum menarik kesimpulan mengenai penyebab maupun pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Penulis: M Ramdhoni

Responsive Slideshow Advertisement

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
Responsive Slideshow Advertisement