Responsive Slideshow Advertisement

Waspada Leptospirosis di Musim Hujan: Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya

Responsive Slideshow Advertisement

TANGERANG – Berdasarkan data cuaca per 23 Januari 2026, wilayah Indonesia khususnya Jabodetabek sedang mengalami kondisi berawan hingga hujan lebat dengan suhu rata-rata sekitar 34°C dan kelembapan yang mencapai 45-58%.

BMKG juga telah mengeluarkan status Siaga dan Waspada untuk wilayah Banten (termasuk Tangerang) dan DKI Jakarta akibat potensi hujan lebat yang dapat memicu genangan air.

Memasuki puncak musim penghujan di awal tahun 2026, masyarakat dihimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit Leptospirosis.

Kondisi lingkungan yang basah dan banjir inilah yang menjadi sarana utama penyebaran bakteri Leptospira dari urine tikus ke lingkungan manusia. Penyakit yang sering dikaitkan dengan genangan air dan populasi tikus ini dapat berakibat fatal jika tidak ditangani dengan cepat.

Menurut dr. Putri Mutiara Sari, dokter umum di RS Sari Asih Cipondoh, pemahaman masyarakat mengenai cara penularan sangat penting, terutama saat curah hujan sedang tinggi seperti sekarang.

*Apa Itu Leptospirosis?*

Leptospirosis adalah penyakit infeksi zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia.

“Penularan utama terjadi melalui kontak kulit dengan air atau tanah yang telah tercemar urine hewan pembawa bakteri, paling sering adalah tikus,” jelas dr. Putri.

*Gejala yang Harus Diwaspadai*

Banyak orang mengira gejalanya hanya flu biasa atau demam biasa. Namun gejala penyakit ini bisa muncul 1–2 minggu setelah terpapar bakteri leptospira. Dr Putri menekankan beberapa tanda khas:

1. Demam Tinggi Mendadak: Disertai menggigil dan sakit kepala hebat.
2. Nyeri Otot Khas: Terutama pada bagian betis, punggung, dan pinggang.
3. Mata Merah: Mata memerah tanpa disertai kotoran mata (belekan).
4. Komplikasi Berat: Jika terlambat ditangani, dapat menyebabkan mata kuning (jaundice), gagal ginjal, hingga perdarahan paru.

*Tips Pencegahan*

Mengingat curah hujan yang diprediksi masih tinggi hingga akhir Januari, menurut dr. Putri Mutiara Sari, berikut langkah praktis pencegahannya:

• Gunakan Alat Pelindung Diri (APD): pakai sarung tangan dan sepatu boots jika harus melewati genangan air atau membersihkan saluran air.
• Tutup Luka: Bakteri masuk melalui luka sekecil apa pun. Tutup luka dengan plester kedap air.
• Kebersihan Diri: Segera cuci tangan dan kaki dengan sabun setelah kontak dengan genangan banjir.
• Basmi Tikus: Jaga kebersihan rumah agar tidak menjadi sarang tikus dengan menutup akses masuk dan mengelola sampah dengan benar.

*Kapan Harus ke Dokter?*

Dokter Putri menyarankan agar masyarakat segera memeriksakan diri jika mengalami demam tinggi dan nyeri otot setelah terpapar air banjir.

“Diagnosis dini dan pemberian antibiotik yang tepat sangat krusial untuk mencegah komplikasi organ dalam,” tutupnya.

Bagi Anda yang memerlukan konsultasi medis atau pemeriksaan lebih lanjut, segera kunjungi fasilitas Kesehatan terdekat dan pastikan kesehatan Anda tetap terjaga di tengah cuaca ekstrem ini dengan menjalani beberapa tips pencegahan.

Penularan utama terjadi melalui kontak kulit yang lecet atau selaput lendir dengan air kencing tikus atau hewan lain yang mengandung bakteri leptospira, paling sering melalui air banjir

Penanganan leptospirosis ringan umumnya bersifat suportif karena penyakit ini bersifat self-limiting disease. Namun, untuk leptospirosis yang bergejala berat, pemberian antibiotik disarankan untuk mencegah komplikasi.

Penulis : Abubakar

Responsive Slideshow Advertisement

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
Responsive Slideshow Advertisement