PALEMBANG, – Suasana khidmat menyelimuti kompleks SMP NU–SMA NU Palembang, Jalan Jenderal A. Yani, 14 Ulu, Palembang Darussalam, saat digelar Haul ke-26 KH Abdul Malik Tadjuddin. Kegiatan tersebut menjadi momentum mengenang perjuangan seorang ulama, tokoh masyarakat, pejuang pendidikan, sekaligus salah satu sesepuh Nahdlatul Ulama (NU) di Palembang dan Sumatera Selatan.

KH Abdul Malik Tadjuddin dikenal memiliki peran dalam perjalanan perkembangan NU di Palembang dan Sumatera Selatan. Kiprahnya tidak hanya dalam bidang keagamaan dan perjuangan keumatan, tetapi juga dalam dunia pendidikan.

Salah satu warisan penting yang ditinggalkannya adalah SMA NU Palembang yang didirikan pada 1968. Lembaga pendidikan tersebut hingga kini menjadi bagian dari sejarah perjuangan pendidikan yang dirintis KH Abdul Malik Tadjuddin.
Putra pertama almarhum, Ir. Ahmad Dailami, mengungkapkan rasa syukur karena pelaksanaan haul kembali mempertemukan keluarga, para tokoh dan masyarakat dalam suasana silaturahmi.
“Alhamdulillah kita dapat bersilaturahmi di sekolah yang didirikan almarhum tahun 1968,” ujar Ahmad Dailami yang akrab disapa Kak Dai dengan penuh haru.
Menurutnya, keberadaan SMA NU Palembang bukan sekadar bagian dari sejarah pendidikan di Kota Palembang, tetapi juga merupakan salah satu peninggalan perjuangan almarhum yang hingga kini masih memberikan manfaat bagi masyarakat.
Haul tersebut dihadiri sejumlah tokoh, antara lain Datuk Sri Dr. H. Ramli Sutanegara, SH., M.Si., MBA, Yang Mulia Sultan Ir. RH. Iskandar Mahmud Badaruddin, Yang Mulia Sultan (SMB IV) RM. Fauwaz Diradja, SH., M.Kn., serta Dr. Ir. AR. H. K. M. Isnaini Madani, MT., M.Si., IAI, selaku Asisten II Pemerintah Kota Palembang, bersama para tamu undangan lainnya.
Ketua PMPB Sumatera Selatan, Yusuf Malaya, menilai haul tidak hanya menjadi agenda untuk mengenang sosok yang telah wafat, tetapi juga menjadi ruang untuk menghidupkan kembali nilai-nilai ilmu, keteladanan dan perjuangan yang pernah diwariskan KH Abdul Malik Tadjuddin.
“Kegiatan ini menjadi kesempatan kita untuk mengingat ilmu dan pelajaran yang telah beliau berikan,” kata Yusuf.
Apresiasi juga disampaikan Asisten II Pemerintah Kota Palembang, Dr. Ir. AR. H. K. M. Isnaini Madani. Ia berharap tradisi haul yang dilaksanakan setiap tahun tersebut dapat terus dipertahankan dan semakin banyak dihadiri masyarakat.
“Karena kita tahu acara ini tahunan, mudah-mudahan selalu ramai dalam rangka mendoakan almarhum dan seluruh keluarga besar beliau,” ujarnya.
Sementara itu, Pengasuh Majelis Da’wah Wattadzikir Al-Husna, Ust. KGS. H. M. Husni Thamrin Yusuf, S.Ag., M.Si., mengenang KH Abdul Malik Tadjuddin sebagai sosok yang memiliki karakter kuat dalam perjuangan serta menjadi panutan masyarakat.
“Kita kenal betul dengan almarhum. Beliau adalah tokoh masyarakat yang menjadi panutan dan tokoh perjuangan pendidikan secara universal di berbagai bidang,” tuturnya.
Diusulkan Jadi Nama Jalan
Di sela-sela kegiatan, Sultan Palembang Darussalam, Sultan Ir. RH. Iskandar Mahmud Badaruddin, menyampaikan pandangannya mengenai kiprah KH Abdul Malik Tadjuddin.
Menurutnya, pengabdian almarhum dalam bidang dakwah, sosial kemasyarakatan dan pendidikan telah memberikan warisan pengetahuan serta nilai-nilai keagamaan kepada masyarakat.
Sultan juga menyampaikan dukungan terhadap wacana pemberian nama jalan di Kota Palembang dengan menggunakan nama KH Abdul Malik Tadjuddin sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengabdiannya.
“Saya sangat mendukung agar dapat terealisasinya wacana yang selama ini mendapat dukungan dari masyarakat, mengenai salah satu nama jalan di Kota Palembang Darussalam diabadikan dengan nama beliau untuk mengenang jasa beliau, yakni Jalan KH Malik Tadjuddin,” ungkapnya.
Haul ke-26 KH Abdul Malik Tadjuddin menjadi momentum penting untuk merawat ingatan kolektif terhadap perjuangan ulama yang memiliki perhatian besar terhadap dakwah, pendidikan dan pengabdian sosial.
Warisan pemikiran serta lembaga pendidikan yang dirintisnya menjadi bagian dari sejarah perjalanan masyarakat dan pendidikan Islam di Palembang. Melalui pelaksanaan haul setiap tahun, keluarga besar, tokoh masyarakat dan warga tidak hanya mendoakan almarhum, tetapi juga berupaya menjaga nilai-nilai perjuangan yang telah diwariskan kepada generasi penerus.
Penulis : Abubakar