Responsive Slideshow Advertisement

Ketua Umum FORSBI Tinjau Temuan Dua Batu Kiser di Pesisir Bekasi, Diduga Peninggalan Era Kolonial Belanda

Responsive Slideshow Advertisement

BEKASI, – Temuan dua batu kiser di Kampung Pandawa Lima, Desa Segarajaya, Kabupaten Bekasi, menarik perhatian Ketua Umum Forum Silaturahmi Betawi Indonesia (FORSBI), Muhammad Jaya. Batu yang diduga merupakan alat penggiling tebu peninggalan masa kolonial Belanda abad ke-17 hingga ke-18 itu kini menjadi objek penelusuran sejarah.

Muhammad Jaya turun langsung ke lokasi pada Sabtu (12/9/2026) setelah melihat dua batu berukuran besar yang berada di halaman rumah warga. Bentuk dan ukurannya disebut sangat mirip dengan batu kiser yang terdapat di Kampung Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur, kawasan yang telah ditetapkan sebagai Kampung Cagar Budaya Batu Penggilingan.

Menurut penelusuran sejarah, batu kiser merupakan bagian dari mesin penggiling tebu yang digunakan pada masa kolonial Belanda untuk mengolah tebu menjadi gula. Sejumlah peninggalan serupa masih tersimpan dan dirawat oleh warga di Kampung Penggilingan, Jakarta Timur.

Keberadaan batu-batu tersebut sebelumnya telah diteliti oleh tim ahli, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Administrasi Jakarta Timur, serta Tim Cagar Budaya untuk memastikan fungsi dan nilai sejarahnya. Hasil kajian itu kemudian menjadi dasar penetapan Kampung Penggilingan sebagai kawasan cagar budaya.

Namun, temuan di Desa Segarajaya memunculkan pertanyaan baru. Lokasi Kampung Pandawa Lima berada di kawasan pesisir laut Kabupaten Bekasi, cukup jauh dari pusat sejarah industri gula di Cakung.

Berdasarkan informasi warga setempat, Kampung Pandawa Lima sejak dahulu dikenal sebagai permukiman nelayan. Warga menyebut tidak pernah ada pabrik penggilingan tebu maupun padi di wilayah tersebut karena mayoritas masyarakat menggantungkan hidup dari hasil laut.

Dalam kunjungannya, Muhammad Jaya menyatakan FORSBI akan menggali informasi lebih lanjut mengenai asal-usul dua batu kiser tersebut, baik melalui keterangan masyarakat, tokoh adat, maupun warga pribumi yang mengetahui sejarah Kampung Pandawa Lima.

> “Temuan ini perlu ditelusuri lebih dalam agar diketahui bagaimana batu kiser bisa berada di kawasan pesisir Segarajaya dan apakah memiliki keterkaitan dengan sejarah peradaban atau jalur distribusi pada masa kolonial,” ujar Muhammad Jaya.

### Asal-usul Nama Kampung Pandawa Lima

Warga setempat juga menceritakan asal mula nama Kampung Pandawa Lima. Menurut Dani, salah seorang warga, dahulu kawasan tersebut hanya dihuni oleh lima kepala keluarga yang menetap di Desa Segarajaya.

Kelima rumah tersebut milik Pak Edy, Sukron, Timah, Ropidi, dan Pajeng. Dari lima rumah itulah masyarakat kemudian menyebut wilayah tersebut sebagai Kampung Pandawa Lima, nama yang bertahan hingga kini meski jumlah penduduk telah berkembang pesat.

FORSBI berharap penelusuran terhadap temuan dua batu kiser ini dapat membuka fakta sejarah baru mengenai keberadaan peninggalan kolonial di wilayah pesisir Kabupaten Bekasi sekaligus menjadi perhatian pemerintah dan pihak terkait untuk dilakukan penelitian arkeologis secara mendalam.

Red

Responsive Slideshow Advertisement

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
Responsive Slideshow Advertisement